Selasa, 19 Juni 2012

askep endokrinologi masa nifas


BAB II
KONSEP TEORI
2.1        Pengertian Masa Nifas (Post Partum)
Masa post partum (nifas) adalah masa sejak melahirkan sampai pulihnya alat-alat reproduksi & anggota tubuh lainnya yg berlangsung sampai sekitar 40 hari (KBBI, 1990).
Masa nifas (peurperium) adalah masa setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungannya kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu. (Abdul Bari S. dkk, 2002)
Masa nifas dimulai setelah melahirkan dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu (Sarwono : 2006)
Masa nifas (post pastum/peurperium) berasal dari bahasa latin yaitu dari kata “puer” yang artinya bayi dan “parous” yang berarti melahirkan. Masa nifas dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungannya kembali seperti keadaan sebelum hamil, biasanya berlangsung selama 6 minggu atau 42 hari, namun secara keseluruhan akan pulih dalam waktu 3 bulan.
2.2        Pembagian Masa Nifas
Masa nifas di bagi menjadi 3 periode yaitu:
a)      Puerperium dini yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan. Dalam Agama Islam dianggap telah bersih dan boleh bekerja dalan 40 hari.
b)      Peurperium intermedial : yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genetalia eksterna dan interna yang lamanya kurang lebih 6-8 minggu.
c)      Remote puerperium adalah waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi.
Periode pasca partum ialah masa enam minggu setelah bayi lahir sampai organ reproduksi kembali ke keadaan normal sebelum hamil . Periode ini kadang disebut puerperium atau trimester keempat kehamilan. Immediate post partum –> Berlangsung dlm 24 jam pertama, Early post partum–>Berlangsung sampai minggu pertama, Late post partum –> Berlangsung sampai masa post partum berakhir

2.3        Perubahan Sistem Endokrin Pada Masa Nifas
Setelah melahirkan, sistem endokrin kembali kepada kondisi seperti sebelum hamil. Hormon kehamilan mulai menurun segera setelah plasenta keluar. Turunnya estrogen dan progesteron menyebabkan peningkatan prolaktin dan menstimulasi air susu. Perubahan fisioligis yang terjadi pada wanita setelah melahirkan melibatkan perubahan yang progresif atau pembentukan jaringan-jaringan baru. Selama proses kehamilan dan persalinan terdapat perubahan pada sistem endokrin, terutama pada hormon-hormon yang berperan dalam proses tersebut.
Selama proses kehamilan dan persalinan terdapat perubahan pada sistem endokrin. Hormon-hormon yang berperan pada proses tersebut, antara lain:
a)   Hormon plasenta
Selama periode pasca partum terjadi perubahan hormon yang besar. pengeluaran plasenta menyebabkan penurunan signifikan hormon-hormon yang diproduksi oleh plasenta. Hormon plasenta menurun dengan cepat setelah persalinan.
Penurunan hormon Human Placental Lactogen (HPL), estrogen dan progesterone serta plasental enzyme insulinase membalik efek diabetogenik kehamilan, sehingga kadar gula darah menurun secara bermakna pada nifas. Ibu diabetik biasanya membutuhkan insulin dalam jumlah yang jauh lebih kecil selama beberapa hari. Karena perubahan hormonal normal ini membuat masa nifas menjadi suatu periode transisi untuk metabolisme karbohidrat, interpretasi tes toleransi glukosa lebih sulit pada saat ini.
Human Chorionic Gonadotropin (HCG) menurun dengan cepat dan menetap sampai 10% dalam 3 jam hingga hari ke-7 postpartum dan sebagai onset pemenuhan mamae pada hari ke-3 postpartum.

b)   Hormon Pituitary
Prolaktin darah meningkat dengan cepat, pada wanita tidak menyusui menurun dalam waktu 2 minggu. FSH dan LH meningkat pada fase konsentrasi folikuler pada minggu ke-3, dan LH tetap rendah hingga ovulasi terjadi.
c)   Hormon Oksitosin
Oksitosin dikeluarkan dari kelenjar bawah otak bagian belakang (posterior), bekerja terhadap otot uterus dan jaringan payudara. Selama tahap ketiga persalinan, oksitosin menyebabkan pemisahan plasenta. Kemudian seterusnya bertindak atas otot yang menahan kontraksi, mengurangi tempat plasenta dan mencegah pendarahan. Pada wanita yang memilih menyusui bayinya, isapan sang bayi merangsang keluarnya oksitosin lagi dan ini membantu uterus kembali ke bentuk normal dan pengeluaran air susu.
d)   Hormon Hipofisis Dan Fungsi Ovarium
Waktu mulainya ovulasi dan menstruasi pada wanita menyusui dan tidak menyusui berbeda. Kadar proklatin serum yang tinggi pada wanita menyusui tampaknya berperan dalam menekan opulasi karena kadar hormone FSH terbukti sama pada wanita menyusui dan tidak menyusui, di simpulkan ovarium tidak berespon terhadap stimulasi FSH ketika kadar prolaktin meningkat. Kadar prolaktin meningkat secara pogresif sepanjang masa hamil. Pada wanita menyusui kadar prolaktin tetap meningkat sampai minggu ke 6 setelah melahirkan. Kadar prolaktin serum dipengaruhi oleh kekerapan menyusui, lama setiap kali menyusui dan banyak makanan tambahan yang diberikan.
Untuk wanita yang menyusui dan tidak menyusui akan mempengaruhi lamanya ia mendapatkan menstruasi. Seringkali menstruasi pertama itu bersifat anovulasi yang dikarenakan rendahnya kadar estrogen dan progestron. Di antara wanita laktasi sekitar 15% memperoleh menstruasi selama 6 minggu dan 45% setelah 12 minggu. Di antara wanita yang tidak laktasi 40% menstruasi setelah 6 minggu, 65% setelah 12 minggu dan 90% setelah 24 minggu. Untuk wanita laktasi 80% menstruasi pertama anovulasi dan untuk wanita yang tidak laktasi 50% siklus pertama an ovulasi.
e)   Hormone Prolaktin
Menurunnya kadar estrogen menimbulkan terangsangnya kelenjar pituitari bagian belakang untuk mengeluarkan prolaktin. Hormon ini berperan dalam pembesaran payudara untuk meransang produksi susu. Pada wanita yang menyusui bayinya, kadar prolaktin tetap tinggi dan pada permulaan ada rangsangan folikel dalam ovarium yang ditekan. Pada wanita yang tidak menyusui tingkat sirkulasi prolaktin menurun dalam 14 sampai 21 hari setelah persalinan, sehingga merangsang klenjar bawah depan otak yang mengontrol ovarium kearah permulan pola produksi estrogen dan progesteron yang normal, pertumbuhan folikel ovulasi, dan menstruasi.
f)     Hormone Estrogen dan Progesteron
Selama hamil volume darah normal meningkat walaupun mekanismenya secara penuh belum dimengerti. Diperkirakan bahwa tingkat estrogen yang tinggi memperbesar hormon antidiuretik yang meningkatkan volume darah. Disamping itu, progesteron mempengaruhi otot halus yang mengurangi perangsangan dan peningkatan pembuluh darah yang sangat mempengaruhi saluran kemih, ginjal, usus, dinding vena, dasar panggul, perineum dan vulva, serta vagina.




2.5        Pemeriksaan Penunjang
1)      Jumlah darah lengkap hemoglobin atau kematokrit: mengevaluasi efek dari kehilangan darah saat persalinan
2)      Urinalis: kultur urine, darah, vaginal dan lochea, pemeriksaan tambahan didasarkan pada kebutuhan individual.

2.6        Penatalaksanaan
a.      Keperawatan
·   Mobilisasi: mobilisasi tergantung pada komplikasi persalinan, nifas dan sembuhnya luka-luka.
·   Diet: sebaiknya makan makanan yang mengandung protein, banyak cairan, sayur-sayuran, dan buah-buahan.
·   Miksi: bila kandung kemih penuh dan ibu sulit kencing sebaiknya dilakukan katerisasi.
·   Defekasi: bila terjadi obstipasi bias diberikan obat laksatif peroral atau perektal.
·   Perawatan payudara (mamae): sebaiknya dimulai sejak kehamilan supaya putting susu lemas, tidak keras dan kering sebagai persiapan menyusui bayinya.
·   Laktasi: bila bayi mulai disusui, isapan bayi akan merangsang produksi ASI lebih banyak sehingga efek positif adalah involusi uteri akan lebih sempurna.

b.      Medic
·   Obat analgetik: digunakan jika klien merasa pusing dan nyeri yang diakibatkan oleh episiotomy dan involusi uterus
·   Obat antipiretik: digunakan jika mengalami peningkatan suhu tubuh
·   Infus dan transfuse darah diperlukan sesuai dengan komplikasi yang dijumpai.


BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
3.1        Pengkajian
1.      Biodata klien yang penting meliputi nama, umur, jenis kelamin, agama, status perkawinan, pendidikan, alamat, suku, sumber biaya, tanggal MRS dan tanggal pengkajian
2.      Riwayat kesehatan klien
a.    Keluhan utama: kemungkinan ibu pada masa nifas adalah nyeri karena luka episiotomy serta proses involusi uterus
b.   Riwayat Menstruasi: Tanyakan kapan Menarche, lama haid, siklus haid, apakah ada dismenore
c.    Antenatal: kaji usia kehamilan ibu seta keluhan yang dirasakan selama hamil
d.   Riwayat Kehamilan: informasi yang dibutuhkan adalah para dan gravida, masalah saaat hamil atau antenatal care (ANC) dan imunisasi yang diberikan pada ibu selama hamil
e.    Riwayat Persalinan: data yang dikaji adalah tanggal melahirkan, lama persalinan, posisi fetus, analgetik dan anastesi yang digunanakan, masalah saat melahirkan, jahitan pada perineum dan perdarahan.
f.    Post Partum: yang dikaji adalah keadaan umum, tingkat aktifitas selama melahirkan, gambaran lochea, keadaan perineum, abdomen, payudara, episiotomy, kebersihan menyusui dan respon ibu terhadap bayi
g.   Riwayat KB: kaji pengetahuan klien dan pasangannya tentang kontrasepsi, jenis kontrasepsi yang pernah digunakan, kebutuhan kontrasepsi yang akan datang atau rencana penambahan anggota keluarga dimasa mendatang
h.   Riwayat Penyakit yang Lalu: kaji penyakit yang pernah diderita pada masa lalu, bagaimana cara pengobatan yang dijalani, dimana mendapat pertolongan. Apakah penyakit tersebut diderita sampai saat ini atau kambuh berulang-ulang
i.     Riwayat kesehatan keluarga: Adakah anggota keluarga yang menderita penyakit yang diturunkan secara genetic, menular, kelainan congenital atau gangguan kejiwaan yang pernah diderita oleh keluarga
j.     Perilaku Kesehatan: Tanyakan apakah ibu sedang mengkonsumsi alkohol/obat-obatan, jamu, merokok
k.   Riwayat Psikososial: Adaptasi psikologi ibu setelah melahirkan, pengalaman tentang melahirkan, apakah ibu pasif atau cerewet, atau sangat kalm. Pola koping, hubungan dengan suami, hubungan dengan bayi, hubungan dengan anggota keluarga lain, dukungan social dan pola komunikasi termasuk potensi keluarga untuk memberikan perawatan kepada klien. Adakah masalah perkawinan, ketidak mampuan merawat bayi baru lahir, krisis keluarga.
l.     Kepercayaan/Adat Istiadat: kaji kultur yang dianut termasuk kegiatan ritual yang berhubungan dengan budaya pada perawatan post partum, makanan atau minuman, menyendiri bila menyusui, pola seksual, kepercayaan dan keyakinan, harapan dan cita-cita.
3.      Aktivitas sehari-hari:
·   Pola nutrisi : pola menu makanan yang dikonsumsi, jumlah, jenis makanan (Kalori, protein, vitamin, tinggi serat), freguensi, konsumsi snack (makanan ringan), nafsu makan, pola minum, jumlah, frekuensi,
·   Pola istirahat dan tidur : Lamanya, kapan (malam, siang), rasa tidak nyaman yang mengganggu istirahat, penggunaan selimut, lampu atau remang-remang atau gelap, apakah mudah terganggu dengan suara-suara, posisi saat tidur (penekanan pada perineum).
·   Pola eliminasi : Apakah terjadi diuresis, setelah melahirkan, adakah inkontinensia (hilangnya infolunter pengeluaran urin), hilangnya kontrol blas, terjadi over distensi blass atau tidak atau retensi urine karena rasa talut luka episiotomi, apakah perlu bantuan saat BAK. Pola BAB, freguensi, konsistensi, rasa takut BAB karena luka perineum, kebiasaan penggunaan toilet
·   Personal Hygiene : Pola mandi, kebersihan mulut dan gigi, penggunaan pembalut dan kebersihan genitalia, pola berpakaian, tatarias rambut dan wajah
·   Aktifitas : Kemampuan mobilisasi beberapa saat setelah melahirkan, kemampuan merawat diri dan melakukan eliminasi, kemampuan bekerja dan menyusui.
4.      Pemeriksaan Fisik
A.    Keadaan Umum
a)   Kaji tingkat kesadaran : kesadaran composmentis
b)   Tekanan Darah : biasanya normal (110-120/70-80 mmHg), kemungkinan TD akan rendah setelah melahirkan karena ada perdarahan
c)   Suhu Tubuh : 24 jam post partum suhu tubuh sedikit naik (37,5-38 0 C)
d)  Denyut Nadi : setelah melahirkan biasanya denyut nadi akan lebih cepat
e)   Respiratori Rate : pernafasan akan mengikuti kondisi suhu dan nadi
B.     Pemeriksaan Khusus
a)      System penglihatan: struktur mata biasanya simetris, biasanya ditemukan anemis, pupil isokor, sclera anikterik, fungsi penglihatan baik
b)      System pernapasan: bentuk dan pergerakan simetris, kadang ditemukan tachypnea pada respirasi, frekuensi pernafasan normal
c)      System kardiovaskuler: kadang ditemukan tachicardi dan penurunan tekanan darah
d)     System pencernaan:biasanya tidak ditemukan masalah pada fungsi pengecapan, reflek menelan baik, tidak ada pembesara dan nyeri tekan pada hepar.
e)      System penciuman: fungsi penciuman biasanya normal dan tidak ada kelainan.
f)       System pendengaran: kedua daun telinga simetris, fungsi pendengaran baik dan biasanya tidak ada kelainan
g)      System uro-ano genetalia: kaji pengeluaran lochea yang meliputi warna, jumlah dan bau. Observasi adanya edema dan mengkaji frekuensi BAB dan BAK.
h)      System integument: perlu dikaji adanya pucat, dyaporosis, keelastisan kulit. Biasanya ibu pasca melahirkan mengalami gangguan volume cairan
i)        System musculoskeletal: ekstremitas atas dan bawah tidak terdapat gangguan, kaji ada atau tidaknya tromboplhebitis karena penurunan aktivitas. Perlu dikaji adanya masa dan nyeri tekan pada abdomen.
3.2        Diagnosa Keperawatan
1.      Nyeri berhubungan dengan trauma pasca melahirkan; prosesinvolusi uterus
2.      Resiko syok hipovolemik berhubungan dengan kurangnya vol.cairan dan elektrolit
3.      Resiko kurang perawatan diri berhubungan dengan kelemahan
4.      Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang masa nifas dan perawatan mamae

3.3        Rencana Asuhan Keperawatan
Dx. 1 Nyeri berhubungan dengan trauma pasca melahirkan; prosesinvolusi uterus
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam nyeri dapat hilang atau berkurang
KH : - klien memahami tentang perawatan rutin selama periode post partum
- klien mengungkapkan reduksi rasa ketidaknyamanan atau nyeri
- klien menunjukan ekspresi wajah rileks
Intervensi
Rasional
1.   Kaji sifat dan derajat/skala nyeri, lama persalinan dan pemberian anastesia atau analgesia.
2.   Berikan informasi tentang perawatan rutin selama periode pasca melahirkan.
3.   Massage uterus dengan perlahan sesuai indikasi

4.   Anjurkan penggunaan teknik pernafasan atau relaksasi

5.   Kolaborai pemberian analgesic sesuai kebutuhan
1.   Membantu mengidentifikasi factor-faktor yang memperberat ketidaknyamanan/nyeri.

2.   Informasi dapat mengurangi ansietas sehingga mengurangi persepsi nyeri

3.   Massage perlahan meningkatkan kontraktilitas tetapi tidak menyebabkan ketidaknyamanan berlebih
4.   Meningkatkan rasa control dapat menurunkan rasa ketidaknyamanan berkenaan dengan kontraksi
5.   Analgesic bekerja pada pusat otak lebih tinggi untuk menurunkan persepsi nyeri


Dx. 2 Resiko syok hipovolemik berhubungan dengan kurangnya vol.cairan dan elektrolit
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan syok hipovolemik tidak terjadi
KH : - TTV dalam batas normal (N : 60-100x/ mnt, S : 36-36,70 C, RR : 16-20x/ mnt, TD: 110-120/70-80 mmHg)
-  Keadaan umum baik
-  Hematokrit dalam batas normal ( L : 40-52 %, P : 35-47 % )
-  Hemoglobin dalam batas normal ( L : 11,5-16,5 g/dL, P : 13-17,5 g/dL )
-  Trombosit dalam batas normal (150.000-400.000 /mm3 )
-  Tidak terjadi tanda-tanda syok
Intervensi
Rasional
1.      Monitor keadaan umum

2.      Observasi tanda-tanda vital tiap 2-3 jam
3.      Monitor tanda perdarahan


4.      Bila terjadi syok hipovolemik, baringkan pasien dalam posisi datar
5.      Anjurkan pada pasien dan keluarga untuk segera melapor jika ada tanda-tanda perdarahan
6.      Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian tranfusi dan cairan parenteral
7.      Kolaborasi dengan petugas laboratorium dalam pemeriksaan trombosit, hematokrit dan hemoglobin
1.   Untuk mengetahui penyimpangan dari keadaan normalnya
2.   Merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum pasien
3.   Perdarahan cepat diketahui dan dapt diatasi sehingga pasien tidak sampai terjadi syok hipovolemik
4.   menghindari kondisi yang lebih buruk

5.   keterlibatan keluarga sangat membantu tim perawatan untuk segera melakukan tindakan yang tepat
6.   untuk menggantikan volume dan komponen darah yang hilang dan untuk memenuhi keseimbangan cairan tubuh
7.   mengetahui tingkat perdarahan
Dx. 3 Resiko kurang perawatan diri berhubungan dengan kelemahan
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam klien mampu melakukan aktifitas perawatan diri
KH : - Klien melakukan aktifitas tanpa bantuan
-    Klien tidak tampak lemah
-    Klien dapat melakukan aktivitas sesuai dengan kemampuannya
-    Klien dapat mandiri untuk mandi, makan, eliminasi dan berpakaian
Intervensi
Rasional
1.Kaji kemampuan (dengan menggunakan skala 0-4) untuk melakukan kebutuhan sehari-hari
2.Libatkan keluarga  dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari pasien
3.Anjurkan mobilisasi secara bertahap sesudah demam hilang sesuai dengan pulihnya kekuatan pasien
4.Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari jika pasien belum mampu sendiri
1.   Membantu dalam mengantisipasi / merencanakan pemenuhan kebutuhan secara individual
2.   memberikan dorongan kepada pasien dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari
3.   agar klien berpartisipasi dalam perawatan diri

4.   bantuan yang tepat perlu dilakukan agar pasien tidak memaksakan diri beraktivitas sementara dirinya belum mampu sehingga kelelahan pasien dapat dihindari


Dx. 4 Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang masa nifas dan perawatan mamae
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam pengetahuan klien bertambah
KH : -  klien mengetahui tentang masa nifas dan perawatan mamae
-    Klien tidak menunjukan wajah yang cemas
-    Klien dapat melakukan perawatan mamae yang benar
Intervensi
Rasional
1.   Kaji tingkat pengetahuan pasien dan keluarga tentang masa nifas dan perawatan mamae
2.   Kaji latar belakang pendidikan klien dan keluarga

3.   Jelaskan tentang dasar fisiologi masa nifas dan pentingnya perawatan mamae

4.   Berikan informasi tentang bagaimana perawatan mamae yang benar
1.   Sebagai dasar pemberian informasi sejauh mana pengetahuan klien dan keluarga

2.   Agar perawat dapat memberikan penjelasan sesuai dengan tingkat pendidikan sehingga penjelasan dapat dipahami
3.   Agar informasi dapat diterima dengan mudah dan tepat sehingga tidak terjadi kesalahpahaman dalam pemberian asuhan keperawatan
4.   Meningkatkan pemahaman tentang perawatan mamae sehingga tidak terjadi pembengkakan mamae atau putting susu lecet

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar